So here I am, trying to create my own alternate ending of my belated-favorite Antologi Rasa
(yes, somehow I managed to say sane and alive after reading that book).
Keara
"Risjad, kelakuan lo itu ya... sampah banget kadang-kadang."
Harris Risjad si kampret di hadapanku ini cuma tertawa-tawa kesetanan mendengar teguranku.
Ah, it feels really good to blurt out those foul words again. Yes, again, setelah beberapa waktu vakum gegilaan bareng makhluk PK ini. Ups, aku lupa kalo aku sudah janji untuk pensiun manggil Harris dengan sebutan PK. Tentu saja makhluk ganteng sialan di hadapanku ini gak tahu janjiku itu, karena aku yakin kepala dia bakal membesar selamanya kalo sampe dia tahu.
Sama Ruly, aku gak akan pernah bisa sebebas ini. Cuma sama Harris aku bisa bebas jadi diriku sendiri yang kadang selengekan ini. Sama Ruly? Gila, dia bakal pingsan kali kalo tahu aku melewatkan sejam terakhir melempar kata makian dalam berbagai bahasa yang aku kuasai. Semua kata tersebut aku persembahkan gratis hanya untuk Harris Risjad. Ya, bukan Ruly.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendedikasikan sesuatu purely untuk Harris.
Ya, walaupun bentuknya hanya kata-kata makian.
Intensitasku ngumpul dengan Harris sudah mulai menumpuk sejak... sejak, yah... anggap saja sejak saat dimana aku, Harris, dan Ruly akhirnya berhasil mengumpulkan serpihan kewarasan kami yang sudah beterbangan entah kemana selama 3 tahun terakhir.
Sejak aku mulai bisa memandang Harris lagi dengan tatapan yang normal - bukan tatapan tajam menusuk seperti saat terakhir kali aku ketemu Harris di airport sepulang dari nonton calon jodohku mencabik gitarnya di Manila (yes, John Mayer itu calon jodohku. Maaf ya, girls).
Sejak aku mulai bisa menerima kalimat singkat pembelaan Dinda terhadap perbuatan Harris di Singapura:
"Keara, in all fairness, you fucked him when he was drunk too, right?"
Tapi saat ini, instead of aiming for something, somewhere - aku dan Harris tidak menuju kemana-mana.
Hanya disini, staying as bestfriends as long as possible - until one of us falls for the other one, for the second time.
Aku disini menunggu giliranku untuk jatuh hati pada Harris.
Ya, aku menunggu LAGI, hanya kali ini targetku berbeda - dan dia baru saja menyodorkan segelas jus apel padaku dengan cengiran khasnya itu.
"Apaan nih? Mana birnya? Cupu amat."
"Key, Key, sepik doang ya lo kemaren ngetweet mau hidup sehat? A healthy lifestyle doesn't include beer, you know. Lagian kan kita cuma mau nonton Finding Nemo, bukannya si kampret John Mayer itu."
Tawaku lepas dan terurai begitu saja. Jenis tawa yang cuma bisa diciptakan oleh keajaiban Harris Risjad - si tujuan baruku.
Tapi tenang, aku gak bakal menerapkan seluruh ilmu seducing-ku ke Harris Risjad ini, karena toh dia sama jagonya denganku (ehm), tapi most likely sih karena aku ingin membiarkan ini mengalir apa adanya.
Ruly? Ke laut aja deh.
Becanda kok. Aku, Ruly, dan Harris masih sering conference ngebanyol via BBM. Dengar-dengar sekarang Ruly lagi 'menikmati kebebasan hidup' setelah lepas dari status cungpret-nya selama di Border.
And I'm happy now, hearing him happy. The real, pure kind of happy; not the sad kind of happy I used to feel when I see him happy. Ngerti kan?
Sederhananya sih perasaanku ke Ruly saat ini bisa dengan gampang dijelaskan dalam 6 huruf:
i k h l a s.
Harris
Setelah susah payah, jatuh bangun membangun kembali kepingan harga diri gue yang terserak sejak gue jatuh cinta sama Keara, akhirnya gue bisa bilang ini: I've finally moved on from Keara.
Yeah, baby! THE Harris Risjad can now bang girls without having this big guilt anymore!
THE Harris Risjad, yours truly ini, yang baru saja membuang semua koleksi lagu Celine Dion dari iPod-nya.
How can I move on, you might wonder...
Well, itu gak mudah, kawan. Sama sekali nggak mudah. Gue harus melewati bermacam fase, siklus patah hati yang super perih sebelum akhirnya bisa sampai di tempat ini (well, di tumpukan bantal sofa-nya Keara dan di tengah 2 dus Domino's Pizza), toyor-toyoran bareng perempuan ini tanpa pengen nyium dia atau melakukan apapun yang berbau percintaan.
The more I try so hard to move on, the more I realize kalau ternyata kunci untuk bisa bahagia, untuk bisa move on, dan untuk bisa jumpalitan tanpa galau stadium akut adalah ikhlas.
Ya, gue mengikhlaskan Keara. Gue ikhlas jika saat ini gue belum ditakdirkan untuk memiliki seluruh partikel hidup dari Keara...
Gue sungguh ikhlas. Don't know how, don't know why, and don't know when, hanya itu yang gue tahu dan gue syukuri: gue mengikhlaskan Keara.
Dan gue berada disini sama Keara, kita bareng-bareng disini, melakukan semua hal ini, semuanya gue jalanin tanpa pretensi. Tanpa ekspektasi berlebih dan tanpa iringan lagu-lagunya Celine Dion lagi di kepala gue.
Gue dan Keara sekarang bisa duduk santai mendiskusikan kelakuan gue sama pacar-pacar gue (oh yes they're back, babe!) tanpa membuat gue mengharapkan macam-macam dari Keara (bayangin dia bakal nampar gue dan minta gue untuk memutuskan pacar-pacar gue dan menikahi dia saat itu juga, misalnya).
Only us with these pure laughs and lots of cussings, only us having each other as bestfriend.
Hanya itu.*
Dan jika salah satu dari kita ingin lebih, well... I think we already got the courage we need to say that out loud.
We learned from our mistakes, thankyouverymuch.
I don't give a damn anymore. Que sera sera banget deh sekarang.
Hati gue sekarang gak jauh beda dengan tingkat kesterilan di rumah sakit: nyaris seratus persen.
Nyaris, karena gue masih menyisakan 1 persen-nya, jaga-jaga kalau suatu saat nanti gue harus mengisinya lagi dengan Keara... atau mungkin yang lain.
Hey, who knows?
*): but I can't help to wonder why Key seems a bit pissed off everytime I tell stories about the girls I banged when I'm not with her.
Ruly
Setelah apa yang Keara katakan di mobil pada malam ketika kita putus, gue mulai sadar akan sesuatu: gak ada yang bisa gantiin Denise di hati gue, sekeras apapun gue berusaha melawan fakta itu.
Dan gue berusaha menerima kenyataan bahwa Denise memang tidak tergantikan. Posisinya bakal tetap disitu, di salah satu sudut terpencil hati gue... eh, kenapa juga gue jadi ngedangdut begini?
Intinya adalah, yang gue lakukan sekarang bukanlah mencari pengganti Denise - tapi mencari seseorang yang bisa membuat gue mengikhlaskan Denise, bukan menggantinya.
Dan mungkin, perempuan berambut merah yang sedang tersenyum di hadapan gue sambil memamerkan sekeranjang stroberi hasil petikan sendiri adalah perempuan yang bisa melakukan itu buat gue.
And I'd be happily in love with her for the rest of my life if she does.