Saya ingat seseorang yang 'mengidap' Alexithymia.
Saya ingat orang itu, G, mencantumkan kata ajaib ini dalam URL Tumblr-nya.
Saya ingat kamu yang ngomel-ngomel kesal karena saya selalu lupa URL Tumblr-mu.
Salah mengeja.
"Hafalin dong, Rin! URL ini kan gampang banget!"
"Aduh G, kata depannya itu lho yang ribet! Pasti selalu redirected ke Google Search. Lain kali cari URL yang gak ribet dong!"
Dan kamu pun mengeluarkan ciri khasmu: tiga tanda titik. Pertanda kamu tak lagi tahu harus bagaimana menanggapi pernyataan saya.
Saya ingat alasan kamu memakai istilah itu,"Ya kan emang bener Rin, gue tuh 'kena' Alexithymia. Lo tau sendiri gue gimana."
Dan saya pun manggut-manggut maklum membaca jawaban kamu.
Saya mengerti.
Saya mengerti kesukaan kamu untuk tidak melisankan banyak kata.
Saya mengerti usaha kamu untuk mengungkapkan banyak kata dalam satu gambar. Dua, tiga, atau bahkan lebih.
Saya mengerti kenyamanan kamu berada dalam "kesulitan mendeskripsikan perasaan sendiri".
Saya ingat kamu, G.
Orang yang saya kagumi setengah mati. Bahkan sampai sekarang.
Bahkan ketika kamu tidak mau lagi bicara sama saya.
Bahkan ketika saya tidak bisa lagi menemukan nama kamu di daftar kontak BBM saya, karena kamu menghapus nama saya dari daftar kontakmu.
Saya ingat kamu pernah bilang, saya adalah satu dari sedikit orang yang membuat kamu bisa cerewet.
Saya juga ingat kamu pernah bilang kalau kamu nyaris tidak bisa bohong pada saya, bahwa saya nyaris selalu bisa menebak pikiran kamu, meraba perasaan kamu. Dan kamu sangat benci sifat saya yang satu itu :P
Saya ingat kamu pernah bilang kalau saya adalah soulmate kamu (kamu bahkan tidak percaya konsep soulmate tapi bisa bilang begitu).
Saya juga ingat percakapan-percakapan tengah malam yang rutin kita lakukan.
Kadang membahas hidup, kadang hanya sama-sama galau, kadang juga hanya bertukar humor sarkastis.
Saya ingat banyak hal tentang kamu, G.
Hal-hal yang kamu rasakan.
Hal-hal yang kamu sukai, hal-hal yang kamu tangisi.
Saya ingat, karena saya yang ada disana untuk mendengarkanmu, G.
Saya patah hati, G.
Patah hati yang sungguh parah karena sahabat saya sendiri yang mematahkan hati saya.
Kalau orang bilang diputusin pacar itu sakit tingkat dewa, mereka pasti belum pernah merasakan bagaimana rasanya diputusin sahabat sendiri.
Saya patah hati karena kamu mendadak berubah tanpa memberi saya alasan apapun.
Tanpa mengizinkan saya membantu kamu.
Mungkin ada beberapa petunjuk yang sengaja kamu cecerkan beberapa minggu sebelum kamu pergi, sebagai ancang-ancang bagi saya untuk bersiap-siap kamu tinggal.
Tapi kamu tahu, G?
Saya menangkap beberapa petunjuk itu. Tapi saya tak peduli, karena saya masih mengira kamu akan mengesampingkan semua itu dan mengizinkan saya untuk membantu kamu, menguatkan kamu.
Semua orang menyuruh saya lupa, G.
Semua orang menyuruh saya untuk melupakan kamu, karena toh tampaknya kamu yang duluan melupakan saya.
Tapi saya belum mau, G. Dan saya yakin sekali, saya tidak akan mau melakukannya.
Karena saya percaya kamu butuh bantuan.
Karena saya percaya ini sebenarnya bukan keinginanmu.
Karena saya percaya ada tangan lain yang memaksa kamu melupakan semua ini.
Dan terutama, karena saya masih butuh kamu.
Saya masih butuh sarkasme kamu yang kamu tebar setiap hari.
Saya masih butuh perasaan nyaman yang saya dapat setiap kali saya ngobrol sama kamu.
Saya masih butuh kamu untuk ngomongin soal NY, dan soal impian kita sekolah berdua disana.
Saya ingat, dua bulan yang lalu kita masih melabeli diri kita masing-masing sebagai 'sahabat' untuk satu sama lain.
Saya ingat.
Saya ingat semua.
Apa kamu tidak?
P.S.: Sejak kamu tidak mau lagi bicara sama saya, saya tak pernah salah lagi mengeja 'Alexithymia', G. Semoga kamu senang mendengarnya.
Oh ya, 2 hari lagi ulang tahun saya. Saya gak akan menagih Haruki Murakami yang kamu janjikan untuk saya... saya cuma ingin kamu ngomong lagi sama saya.
Cerita. Menangis. Marah. Terserah kamu.
Apapun... asal jangan diam.
Label: Daily life