Selasa, 19 Juli 2011
17.42
Beberapa hari yang lalu, gue lupa tanggal berapa (ciri-ciri liburan #100: lupa hari dan tanggal) ranah Twitter sempat dihebohkan dengan berita beberapa figur Twitter (dan juga public figure di dunia nyata) yang mengadakan acara nongkrong-nongkrong santai di Comedy Cafe, Kemang. Cuma santai doang? Eits, selain buat tweetup (bahasa gaul Twitter untuk kopdar) acara ini juga menyajikan ‘panganan’ lain: stand-up comedy!
Yak, jenis hiburan yang populer banget di Amerika Serikat ini memang belum cukup familiar buat sebagian besar orang Indonesia. Bahkan kaum urban Jakarta pun jarang yang tahu stand-up comedy, apalagi menikmatinya. Gue gak tau persis sejarah stand-up comedy atau gimana perkembangan serta teknis-teknis dalam penyampaian stand up comedy. Gue Cuma tau sedikit, itu pun gara-gara nonton ‘Whose Line Is It Anyway?’ di TV J
Singkatnya, gue penasaran. Tapi berhubung gue anak rumahan yang baik hati (baca: gak punya duit + gak ada yang nganterin ke Comedy Cafe) gue pun melewatkan kesempatan nongkrong santai dan ketawa-ketiwi denger banyolannya anak-anak Twitter disana. Gue diem di rumah, bertapa sampe lumutan *halah*.
Gue tenang-tenang aja, kenapa? Karena gue tau orang-orang Twitter itu banci teknologi. HAHAHA. Kalo ada acara-acara semacam ini, apalagi pengisi acaranya banyak dari kalangan populer di Twitter, videonya pasti akan cepat di-upload ke Youtube. Dan benar aja, beberapa hari setelah malam itu, satu persatu video dari para performer stand-up comedy malam itu di-upload ke Youtube. Gue sengaja tungguin sampe semua video lengkap, biar asik nontonnya :D
Yang asik dan bikin salut, anak-anak Twitter gak pernah main-main untuk urusan promosi event. Mereka akan dengan sigap bikinin akun khusus (kalo memang dibutuhkan), jadi pertanyaan mengenai acara tersebut bisa langsung dilayangkan ke akun resminya. Untuk mengabadikan acara stand-up comedy malam itu, dibuatlah akun @StandUpIndo. Dan yang serunya lagi, acara dadakan yang awalnya bermula dari keprihatinan beberapa orang pengisi acaranya terhadap situasi stand-up comedy di Indonesia ini mau dibikin berkelanjutan! Wah. Optimis gue dengan acara ini. Tujuan acara ini juga buat membuktikan kalo Indonesia BISA ngadain stand-up comedy – tujuan dan pernyataan yang melawan apatisme yang bilang kalo stand-up comedy itu gak bakal berkembang di Indonesia.
Lanjut, akhirnya setelah menunda-nunda beberapa belas jam, gue sempat juga nonton semua video di channel Youtube-nya StandUpIndo.
...Setelah nonton, perasaan gue campur aduk.
Antara bangga, senang, dan miris juga. Dari semua video performers stand-up comedy malam itu, gue agak kecewa dengan salah satu jokes yang dilontarkan oleh idola gue: Pandji Pragiwaksono. Don’t get me wrong ya, gue mau tegaskan disini kalo gue sangat menikmati jokes yang disuguhkan para performers (termasuk Pandji; I’m a fan of this guy!) tapi menurut gue joke yang satu itu agak gak pantas dilontarkan – apalagi untuk ditertawakan.
Memang, gue setuju dengan statement yang dilontarkan Pandji dalam sesinya saat itu,”Stand-up comedy itu mengajarkan kita untuk tidak sensi. Mengajarkan kita untuk menertawai diri sendiri.”
True. That statement is completely true. Menurut gue, Indonesia memang butuh loosen up sedikit. Butuh belajar gimana caranya menikmati kesialan yang menimpa diri sendiri, dan mengubah gerutuan menjadi tawa. Kenapa butuh? Soalnya ketawa itu memang obat paling mujarab untuk membuat hidup terasa lebih baik. Contoh nih, lo jatuh di jalan, di tengah keramaian orang. Lo mau nangis atau menggerutu, orang-orang tetap akan menengok dan ngetawain lo – beberapa diam-diam, sebagian lain mungkin benar-benar ketawa lepas – dengan konotasi yang cenderung negatif. Tapi coba kalo abis jatuh itu lo ketawa? Orang-orang di sekeliling lo akan ikut tertawa, dengan konotasi yang lebih positif. Mungkin mereka juga akan menilai lo lebih baik,”Gila ya orang ini, jatoh sendiri kok malah ketawa. Tapi lucu juga ya, berani.” (well, at least that’s what I thought kalo menemukan fenomenon itu di jalan :P) lo juga bakal memberikan mereka something to smile about di tengah suasana kota yang sumpek, dan mungkin something to tell about to their friends,”Eh masa tadi gue liat orang jatuh di jalan, terus dia ketawa sendiri. Lucu deh. Liatnya jadi ikutan ketawa juga, lumayan sumpek gue ilang dikit tadi abis dimarahin bos.”
Gue sendiri, termasuk orang yang seperti itu. Gue sering banget melakukan kecerobohan dimana-mana; dan kadang kecerobohan itu menarik perhatian (dan bikin malu, yeah). Tapi gue udah terlatih untuk get up dan ngetawain diri gue sendiri, because somehow that makes me feel good about myself. I’m just saying, laughing at ourselves is one of the best way to enjoy life as it is. And Pandji said it right.
Tapi yang Pandji katakan malam itu bukan joke untuk menertawai dirinya sendiri – tapi menertawai orang lain. Menertawai orang yang juga cari duit, sama seperti yang kita semua lakukan di Jakarta – dengan cara yang berbeda.
Joke yang dilontarkan Pandji malam itu sempat juga dia lontarkan di Twitter – yang memancing banyak respon negatif. Gue gak heran. Gue bukan termasuk orang yang sampe niat mention dia untuk ngingetin kalo joke itu kebangetan, tapi gue termasuk bagian orang-orang yang berpendapat kalo hal kayak gitu gak pantas untuk dibecandain.
Masih ingat joke Pandji tentang joki 3-in-1? Kalo gak salah bunyinya begini,”Joki 3-in-1 gak tau apa ya kalo hari libur nasional 3-in-1 ditiadakan? Makanya main Twitter!” or something like that. Maaf, gue gak ingat persisnya gimana. Bisa Googling untuk tau tweet persisnya (kalo belum dihapus) atau mungkin koreksi gue, gak masalah!
Kalo diliat sekilas, lawakan itu emang biasa aja. Tapi buat gue, lawakan kayak gitu gak pantas. Kasar, malah. Call me sensi atau apalah ya, gue gak peduli, tapi selucu-lucunya suatu topik, itu gak akan lucu kalo menyinggung perasaan orang lain.
Orang-orang Indonesia, terutama kaum urban yang tinggal di Jakarta – pasti familiar banget dengan joki 3-in-1 yang kerap ‘menghiasi’ jalan-jalan protokol Ibu Kota. Menurut Pandji malam itu, dia gak percaya karena kebanyakan joki 3-in-1 tampangnya (dia gak bilang secara langsung, tapi melalui peragaan) yang bisa diartikan sebagai ‘mencurigakan’. Dia juga bilang kalo kebanyakan joki 3-in-1 itu bau ketek – dan dia punya trust issues terhadap para joki tersebut karena 2 masalah diatas.
Dia bilang dia gak bisa percaya seseorang yang dia gak kenal masuk mobilnya dia terus numpang sampe tujuan tertentu.
Gue gak masalah dengan trust issues yang dia miliki. Pun gue gak mempermasalahkan stereotipe dia mengenai para joki 3-in-1, karena mungkin memang benar dan banyak orang merasakan hal yang sama seperti dia. Everyone is entitled to their own opinion. Dia bisa punya opini. Hanya saja, opini yang dia sampaikan malam itu bukanlah sesuatu yang harusnya dijadikan bahan tertawaan.
Gini ya, pertanyaannya sekarang: siapa sih yang mau jadi joki 3-in-1 kalo bukan karena terpaksa? Memangnya gak malu, berdiri di pinggir jalan, mengangkat tangan cari tumpangan – sambil pasang tampang melas? Belum lagi resiko dia diangkut orang jahat yang ternyata mau nyulik orang untuk dijual organnya. Atau diangkut sampe tujuan tertentu, tapi dia gak dibayar buat pulang ke tempat dia semula. See, being a 3-in-1 jockey is as risky as being the taker.
Gue bisa ngomong seperti ini karena keluarga gue – Ayah gue – sering menggunakan jasa para joki ini untuk sampai ke kantornya di Dukuh Atas tanpa kena urusan gak enak sama polisi. Biasanya Ayah ambil joki di daerah Blok M. Beberapa joki malah ngobrol akrab sama gue dan Ayah, dan mereka punya alasan dan cerita masing-masing mengenai kenapa mereka jadi joki.
Ada seorang bapak tua yang jadi joki. Ayah mengangkut bapak ini selama kurang lebih dua bulan sebelum akhirnya dapat supir baru. Ayah tau nama joki ini, begitu juga joki ini, beliau tau nama Ayah gue. Beliau juga sering cerita mengenai keluarganya. Anaknya hampir di-DO berkali-kali karena sering telat bayar uang kuliah. Itu salah satu alasan kenapa bapak ini akhirnya jadi joki, walaupun penghasilan yang didapat gak seberapa. Bayangin, umur udah setua itu, badan udah ringkih, ngomong pun udah lirih, masih aja bela-belain membuang harga dirinya demi biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya!
Pengorbanan semacam ini yang menjadi alasan kuat gue untuk bilang kalo lawakan Pandji mengenai joki 3-in-1 itu TIDAK PANTAS. Mungkin pendapat gue akan berbeda kalau dia menyatakan itu dalam konteks dan suasana yang serius, tapi untuk dijadikan bahan lawakan, gue rasa hal itu sangat gak pada tempatnya.
Oke, mereka mungkin bau. Dekil, kusam, dan tampangnya mencurigakan. Tapi kalo mereka punya pilihan, tentu mereka gak mau juga berkeliaran di jalan dengan keadaan seperti itu. Kalo mereka punya pilihan, seperti Pandji – mereka pasti lebih memilih untuk naik mobil, macet-macetan mengarungi jalanan Jakarta dengan pakaian rapi di dalam mobil yang ber-AC.
Jadi joki 3-in-1 adalah salah satu cara orang untuk mendapat uang dan bertahan hidup – bukan bahan lawakan oleh seseorang yang kehidupannya cukup dan punya pilihan untuk tidak seperti mereka.
Kalo toh Pandji Pragiwaksono bisa survive dengan menjadi MC, jadi komedian, dan jadi rapper, alhamdulillah itu adalah rejekinya dia. Tapi gak semua orang seberuntung dia, atau seberuntung kita.
To joke around about your nation is one thing; but it’s never funny to joke about someone’s appearance or their profession – unless you know the story behind them.
Kesan gue terhadap stand-up comedy? Jujur aja gue masih sedikit kecewa. Salah satu performer di acara ini mengklaim kalo stand-up comedy Indonesia dibuat untuk memeriahkan dunia hiburan Indonesia (khususnya lawak) yang sekarang lagi jaman pake becandaan fisik (toyor-toyoran dll). Mereka mau nunjukin kalo tanpa noyor kepala orang pun, mereka bisa bikin orang tertawa.
...tapi apa iya caranya harus dengan menghina pekerjaan orang lain?
I laughed at jokes about SBY, and I too, laughed at the joke mengenai stereotipe orang Sunda yang dilontarkan. I’m just saying, gue menikmati juga lawakan yang sifatnya ngeledek. Tapi kalo meledek pekerjaan orang lain – apalagi pekerjaan tersebut gak merugikan bagi orang lain – gue gak bisa tertawa. Somehow that’d be wrong for me to enjoy the joke and laugh at it.
Mungkin ini tulisan yang bakal diketawain performers stand-up comedy malam itu, karena ditulis oleh seseorang yang gak ngerti apapun mengenai stand-up comedy.
But one thing for sure, gue ngerti bagaimana cara menghormati orang lain; apapun pekerjaan yang mereka lakukan atau bagaimana penampilan mereka.
P.S.: Tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan Pandji Pragiwaksono, sama sekali bukan. Seperti yang udah gue bilang di atas, gue menikmati perfomance dari semua pengisi acara stand-up comedy di Kemang malam itu, termasuk performance dari Pandji. Hanya saja, joke mengenai joki 3-in-1 itu ‘mengetuk’ pintu hati gue untuk menulis ini.
I don’t hate him. I don’t hate anyone. In fact, I’m still a fan of Pandji Pragiwaksono up to this second. That guy has many potential talents he should share more often ;)
Untuk semua performers (dan calon performers) stand-up comedy Indonesia, good luck!
Semoga kalian bisa mengubah trend becandaan Indonesia ke arah yang lebih smart dan berisi ya ;)
Pamulang,19 Juli 2011
19.46
Untuk Pandji cs., terimakasih atas ide stand-up comedy-nya. I wish you guys nothing but the best ;)